PSI Samarinda Soroti Ancaman Grooming Anak, Ajak Bangun Pola Asuh Lebih Protektif di Era Digital

Samarinda, jendelakaltim.id – Upaya memperkuat perlindungan anak dari ancaman grooming dan kekerasan seksual di era digital menjadi fokus utama pada talkshow yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Samarinda, di Sekretariat DPD PSI, Jalan Perjuangan. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan masyarakat umum dengan penekanan pada peningkatan kewaspadaan orang tua dalam pola pengasuhan modern. Sabtu (14/2/26).
Talkshow bertajuk “Peran Keluarga Dalam Pola Pengasuhan di Era Modern: Mewaspadai Grooming dan Kekerasan Pada Anak” menghadirkan Psikolog Fransisca Debi Oktavia sebagai pemateri. Ia menekankan pentingnya literasi orang tua terhadap pola perilaku anak dan potensi risiko yang muncul, baik di ruang fisik maupun digital.
Dirinya menegaskan, kegiatan ini bersifat edukatif dan bertujuan membuka wawasan masyarakat.
“Poin pentingnya sebenarnya ini adalah sebuah seminar edukasi tentang bagaimana kita sebagai orang tua dan masyarakat mencegah terjadinya child grooming ataupun kekerasan seksual pada anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemahaman terhadap perubahan perilaku anak menjadi salah satu kunci deteksi dini terhadap potensi grooming.
“Karena ini adalah sesuatu yang sifatnya edukasi, jadi ini membuka pengetahuan dari para audiens. Mengenali bagaimana perilaku-perilaku anak ataupun perilaku-perilaku berisiko yang itu bisa membuat anak terjerumus di dalam child grooming secara offline maupun online,” tambahnya.
Dari sisi penyelenggara, DPD PSI Samarinda menilai isu perlindungan anak semakin menantang seiring pesatnya penggunaan teknologi digital di lingkungan keluarga. Karena itu, forum diskusi publik dinilai penting untuk membekali orang tua dengan pengetahuan praktis.
Wakil Bendahara DPD PSI Samarinda, Renny Astuti, menyampaikan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap isu perlindungan anak yang semakin kompleks di era digital.
“Mengajak orang tua dan masyarakat lebih sadar soal celah masuk manipulasi dan kekerasan pada anak, sekaligus belajar bagaimana cara membuat ruang aman buat anak. Karena kasih sayang itu seharusnya melindungi, bukan melukai,” tuturnya.
Ia juga berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi membawa dampak nyata bagi peserta.
“Peserta jadi lebih peka, tahu tanda-tandanya, paham cara mencegahnya, dan berani ambil sikap kalau ada kekerasan. Kami berharap peserta bukan cuma hadir, tapi pulang membawa insight dan aksi,” tegasnya.
Respons positif datang dari peserta yang mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya Paulus Ginting yang mengaku mendapatkan perspektif baru agar membangun relasi dengan anak.
“Satu hal yang sangat membekas bagi saya adalah kutipan, ‘Koneksi dulu baru koreksi’. Kalimat ini menyadarkan saya bahwa sebagai orang tua, saya harus membangun kedekatan terlebih dahulu dengan anak sebelum mulai mengoreksi perilakunya,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan kebiasaannya selama ini dalam mendisiplinkan anak.
“Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan hari ini dan materinya akan saya pelajari lebih dalam lagi,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap peningkatan kesadaran publik terhadap bahaya grooming dan kekerasan pada anak dapat diikuti dengan perubahan pola pengasuhan yang lebih aman, suportif, dan responsif terhadap tantangan zaman. (yud)



